Menulis Program
Dalam menulis program dengan menggunakan suatu bahasa komputer, ada kemungkinan terjadi kesalahan baik itu pada sintaksis, semantik atau kebenaran logika. Kesalahan sintaksis akan langsung kelihatan, karena komputer akan menampilkan pesan kesalahan. Sedangkan untuk kesalahan semantik biasanya terjadi karena kekurang pahaman terhadap setiap pernyataan yang dituliskan pada program, sehingga walaupun program bisa berjalan tetapi tidak seperti yang dikehendaki. Untuk kesalahan logika merupakan kesalahan dalam mengimplementasikan masalah yang dihadapi, sehingga program yang ditulis tidak benar secara logika.
Bahasa pemrograman komputer pada intinya dikelompokan menjadi 2 bagian yaitu bahasa pemrograman tingkat rendah (low level programming language) dan bahasa pemrograman tingkat tinggi (high level programming language). Bahasa pemrograman tingkat rendah biasanya sulit dipahani karena berhubungan dengan mesin komputer itu sendiri. Salah satu contoh bahasa tingkat rendah adalah bahasa assembler. Program yang ditulis dengan bahasa Assembler terdiri dar label; kode mnemonic dan lain sebagainnya, pada umumnya dinamakan sebagai proram sumber (Source Code) yang belum bisa diterima prosesor untuk dijalankan sebagai program, tapi harus diterjemahkan dulu menjadi bahasa mesin dalam bentuk kode biner. Kode biner disini dilambangkan dengan angka 0 dan 1. Kita tidak akan membahas bahasa assembler disini. Jika penasaran bisa searching di google sendiri.
Bahasa pemrograman tingkat tinggi merupakan nahasa pemrograman yang memakai kata-kata dan pernyataan yang mudah dimengerti manusia, meskipun masih jauh berbeda dengan bahasa manusia sesungguhnya. Adapun contoh dari bahasa pemrograman tingkat tinggi adalah Pascal dan C. Proses menulis program di dalam komputer itu tidak sekedar hanya menulis suatu urutan intruksi untuk dikerjakan oleh komputer melainkan untuk memecahkan suatu permasalahan dengan mencari alternatif solusi yang terbaik untuk dipilih. Ada empat hal yang harus diperhatikan dalam proses pemecahan maslah sebelum diimplementasikan dalam sebuah program, yaitu:
1. Menganalisa dan memahami suatu permasalahan dan dibuat suatu algoritmanya, dimana algoritma disini merupakan suatu pola pikir terstruktur yang berisi tahap-tahap penyelesaian suatu permasalahan yang sedang dihadapi.
2. Membuat suatu kode dari algoritma yang telah dibuat ke dalam pernyataan-pernyataan yang sesuai dengan bahasa pemrograman yang dipakai.
3. Testing dan debugging. Testing merupakan proses menjalankan program secara rutin untuk menemukan kesalahan-kesalahan dalam penulisan suatu pernyataan dalam program. Sedangkan debugging adalah proses menemukan kesalahan-kesalahan dalam program dan kesalahan yang ditemukan diperbaiki samapi tidak muncul kesalahan lagi.
4. Melakukan dokumentasi terhadap setiap langkah yang dilakukan. Dokumentasi ini sangat penting untuk mengembangkan program selanjutnya.
Dapat kita lihat pada bagian diatas, sudah dijelaskan bagaimana konsep pemecahan masalah dimana nantinya permasalahan yang dihadapi akan dicari solusi dan diimplementasikan dalam suatu bahasa pemrograman dengan komputer. Kondisi semacam ini dinamakan dengan pemrograman. Lebih khusus lagi dalam mengimplementasikan urutan langkah dalam penyelesaian suatu masalah, kita menggunakan bentuk dan rancang bangun yang mudah dipahamim dan tidak berbeli-belit, sederhana dan dapat dikembangkan siapa saja. Konsep ini dinamakan pemrograman terstruktur. Adapun ciri-ciri atau karakteristik dari pemgrograman terstruktur adalah sebagai berikut:
1. Mempunyai teknik pemecahan permasalahan yang tepat dan benar.
2. Memiliki algoritma pemecahan masalah yang sederhana dan efisien dalam memecahkan masalah.
3. Teknik penulisan program memiliki struktur logika yang benar dan mudah dipahami.
4. Membutuhkan biaya testing dan rendah.
5. Memiliki dokumentasi yang baik.
Setelah kita memahami konsep pemrograman terstruktur, tentu akan mudah dalam penyusunan dan pembuatan suatu program.



Comments
Post a Comment